Oleh : Sabar Ardiansyah,SST
PMG Ahli Muda Stasiun Geofisika Kepahiang-Bengkulu
Belum begitu lama kita dikagetkan oleh gempabumi akibat aktivitas Sesar Musi di Kabupaten Kepahiang pada bulan Oktober 2017 lalu, kini Sesar Katahun juga menunjukkan aktivitas gempabumi cukup kuat dengan kekuatan M=5,0 pada tanggal 6 Desember 2017. Gempabumi yang terjadi pada pukul 03:46:29 WIB ini terletak pada koordinat episenter 3,18 LS dan 102,11 BT. Jarak pusat gempabumi yang hanya 12 km arah barat daya kota Muara Aman membuat guncangan sangat kuat dirasakan masyarakat sekitar bahkan dirasakan hingga ke Kota Lubuk Linggau.

Ditambah lagi gempa ini memiliki kedalaman yang cukup dangkal yaitu hanya 10 km. Melihat lokasi serta kedalaman yang dangkal, gempa ini merupakan gempa tektonik yang diduga kuat berasosiasi dengan segmen lokal yaitu Segmen Ketahun.

Dari data sejarah kegempaan membuktikan bahwa posisi kita sangat dekat dengan zona gempa bumi darat yang kita sebut dengan patahan atau sesar. Patahan lokal yang ada di Propinsi Bengkulu setidaknya ada tiga segmen sebagai “pembangkit” gempa bumi darat. Tiga sesar lokal ini adalah sesar lokal Segmen Musi di Kabupaten Kepahiang, Segmen Manna di Kabupaten Bengkulu Selatan, dan Segmen Ketahun di Kabupaten Bengkulu Utara. Tiga sesar lokal ini merupakan sesar aktif yang dapat dibuktikan dengan data rekaman gempa yang ada di Stasiun Geofisika Kepahiang maupun sejarah gempa bumi merusak yang pernah terjadi pada lokasi patahan ini.

Pada tahun 1943, gempabumi merusak dengan kekuatan M=7,4 pernah terjadi di wilayah Ketahun. Gempa bumi ini diakibat oleh aktivitas sesar lokal Segmen Ketahun. Kerusakan terbesar meliputi wilayah mulai dari Desa Tes sampai Muaraaman. Di Desa Tes gempa bumi ini menyebabkan 90% rumah penduduk roboh/hancur. Kerusakan juga terjadi di Muaraaman, berkisar 25% rumah penduduk roboh akibat gempa utama. Patahan lokal Segmen Ketahun kembali menunjukkan eksistensinya pada tahun 1952 dengan terjadinya gempa bumi besar berkuatan M=6,8. Kerusakan yang diakibatkan gempa pada tahun 1952 juga tidak kalah hebatnya dengan gempa pada tahun 1943, hampir 75% rumah penduduk di Desa Tes hancur/roboh dan tidak kurang dari 15% kerusakan juga terjadi di daerah Muaraaman.

Patahan lokal Segemen Ketahun ini memang sudah cukup lama menyimpan energi gempabumi. Energi yang lama disimpan ini sesuatu waktu akan dilepaskan dalam bentuk gempabumi kuat. Dengan adanya gempabumi berkekuatan M=5,0 pada tanggal 6 Desember 2017 ini, diharapkan energi yang selama ini disimpan pada Segmen ini sudah mulai berkurang.

Menurut salah satu ilmuan LIPI, Bapak Dany Hilman Natawidjaja yang pernah melakukan penelitian sesar Sumatera, Sesar Segmen Ketahun ini memiliki panjang 85 km memanjang mulai melalewati Ketahun, Tes hingga Muaraaman. Segmen ini memiliki slip rate atau pergerakan rata-rata 1,0 cm per tahun. Dengan demikian dalam 100 tahun slip mencapai 10 cm serta 20 cm dalam 200 tahun. Secara teoritis momen seismik (Mo) adalah 6.75 x 1025 untuk periode ulang 100 tahun. Artinya dalam satu dekade segmen ini menyimpan potensi gempabumi sebesar Mw=7,2 dengan asumsi 100% terkunci Namun, dalam kenyataannya segmen ini tidak 100% terkunci, artinya terus melepaskan energi dalam bentuk gempa kecil dan rayapan. Dapat kita bayangkan jika gempabumi berkekuatan di atas 7,0 terjadi di wilayah Muara Aman dan sekitarnya dengan kondisi yang jauh berbeda seperti tahun 1943 atau 1952, dimana saat ini gedung-gedung bertingkat sudah cukup banyak, jumlah penduduk semakin bertambah. Artinya, potensi kerusakan dan korban jiwa cukup besar jika kita tidak memiliki sistem mitigasi (upaya pengurangan risiko) yang memadai. (***)

Link Terkait

LPSE Mukomuko

Lpse Pemerintah

BPBD Kota Bngkulu

KANTOR BPBD KOTA

BNPB

BNPB Jl. Ir.H.Juanda No. 36

BMKG

BMKG Jl. Angkasa I, No.2

BPBD Mukomuko on Twitter